Pertolongan Pertama Yang Harus Dilakukan Saat Menolong dengan Pernapasan Buatan

STAP BAAK - Jika korban kecelakaan mengalami henti napas, tubuh tentu tidak mendapatkan zat asam yang cukup san tidak sapat membuang zat asam arang yang berlebih. Henti napas dapat terjadi karena hal hal berikut :
  • Jalan napas tersumbat oleh air, darah atau kotoran. Terjadi pada mereka yang tenggelam, muntah muntah, atau tersedak.
  • Jalan napas membengkak karena keracunan gas yang merangsang saluran napas
  • Kelumpuhan organ pernapasan, misalnya pada orang yang tersambar petir, terkena arus listrik, atau keracunan gas.
Untuk mengembalikan fungsi pernapasan pada korban tersebut, pernapasan buatan perlu segera diberikan. Pada prinsipnya, pernapasan buatan harus dilaksanakan secepat mungkin untuk mencegah jantung berhenti dan kerusakan jaringan otak karena pasokan oksigen yang turun

Beberapa cara melakukan pernapasan buatan diuraikan sebagai berikut:

1. Pernapasan dari Mulut ke Mulut

Dalam mempergunakan cara ini, harus hati hati terhadap korban yang tertelan racun keras. Karena jika tidak berhati hati, racun itu dapat berpindah ke tubuh penolong.

Caranya
  • Telentangkan korban dan kemudian dorong kepalanya mengenadah hingga dagunya terangkat ke atas. Pada penderita patah tulang leher, kepala tidak boleh didorong menengadah tetapi cukup diberi bantal di bawah lehernya
  • Dorong dagunya sehingga mulut korban terbuka sedikit. Bersihkan mulut tersebut dari kotoran yang menghalangi
  • Mulut penolong dibuka lebar dan diletakkan ke mulut korban. Bersamaan dengan itu, hidung korban ditutup dengan dipencet rapat rapat
  • Bila mulut korban cedera atau terkunci, penolong meletakkan mulutnya di hidung korban. Dalam hal itu, harus dijaga agar mulut korban tetap tertutup rapat. Kemudian penolong menghembuskan napas kuat kuat kedalam saluran napas korban, lalu penolong melepaskan mulut untuk memberi jalan udara yang keluar dari mulut korban
  • Tindakan tersebut dilakukan berulang ulang, untuk orang dewasa hembusan napas dilakukan dengan kecepatan 12 kali dalam satu menit. Untuk anak anak berikan tiupan pendek dengan kecepatan 20 kali dalam satu menit. Tangan kanan penolong ikut membantu mendorong gerakan dada korban

2. Pernapasan Buatan Cara Nielsen

Cara ini dapat mengalirkan udara ke paru paru lebih banyak dari pada cara dari mulut ke mulut. Tetapi memiliki kelemahan, yaitu penolong tidak dapat sepenuhnya menguasai saluran napas korban secara terus menerus. Apabila terjadi penyumbatan (misal oleh lendir), usaha ini tidak banyak memberikan hasil

Caranya
  • Penlolong berlutut di dekat kepala korban. Pegang kedua lengan atas korban untuk diangkat keatas.Korban dalam posisi telungkup
  • Angkat siku korban keatas dan kedepan untuk mengembangkan paru parunya. Dengan demikian udara akan terhisap kedalam, kemudian kembalikan lagi kesikap semula
  • Bentangkan kedua telapak tangan penolong di punggung korban sedemikian rupa sehingga ibu jari tangan kiri bertemu dengan ibu jari tangan kanan
  • Kemudian punggung korban ditekan kebawah untuk mengempiskan paru parunya.
  • Ulangi lagi dari atas sampai berkali kali
Cara Nielsen ini tidak boleh dilakukan terhadap korban yang mengalami patah tulang selangka, tulang iga, tulang belakang, dan mengalami cedera otak.

3. Pernapasan Buatan Cara Silvester

Caranya
  • Baringkan Korban dalam posisi telentang
  • Penolong berlutut di depan kepala korban
  • Lalu kedua tangannya direntangkan dan dilipat ke dada secara berganti ganti
Pemberian napas buatan harus dilakukan kepada setiap korban yang diduga memerlukannya tanpa harus menunggu apakah korban itu benar terhenti pernapasannya atau tidak. Pernapasan buatan diberikan secepatnya mengingat sekitar lima menit saja otak tidak mendapatkan zat asam atau oksigen maka jaringan otak akan rusak atau mati.

Reactions:

Share this with short URL:

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar